Jumat, 04 Januari 2013

KONSELING KEPRIBADIAN


KONSELING KEPRIBADIAN

Tulisan softskill sistem informasi psikologi Dama Garri S.W.S 13509179 kelas 4PA07


Bagaimana Mengenal Kepribadian Ekstrovert dan Introvert?
Pentingnya mempelajari temperamen

Manusia di ciptakan berbeda-beda,  baik dari segi fisik maupun temperamen.  Dalam hubungan suami-isteri, maupun hubungan pertemanan sering terjadi salah paham oleh karena ketidak sanggupan memahami sifat dan karakter masing-masing.  Nah..oleh karena itu melalui pelajaran ini mari kita belajar mengenali karakter masing-masing, demi terciptanya hubungan yang lebih baik. Nah..berikut ini kita akan membahasa 2 jenis kepribadian temperamen manusia, yaitu Ekstrovert dan Introvert.
Jung mengatakan (dalam Hall dan Lindzey, 1978 : 125) bahwa ekstrovert adalah kepribadian yang lebih dipengaruhi oleh dunia objektif, orientasinya terutama tertuju ke luar. Pikiran, perasaan, serta tindakannya lebih banyak ditentukan oleh lingkungan. Sedangkan introvert adalah kepribadina yang lebih dipengaruhi oleh dunia subjektif, orientasinya tertuju ke dalam.
Sementara introvert Menurut Eysenck, adalah satu ujung dari dimensi kepribadian introversi - ekstroversi dengan karakteristik watak yang tenang, pendiam, suka menyendiri, suka termenung, dan menghindari resiko (Pervin, 1993). Nah..Kita akan melihat perbedaan kedua jenis kepribadian ini, dari sudut perkembangan moral, akademis, pilihan pekerjaan, dll.
1. Perkembangan Moral dan Rohani:
A. Kaum Ekstrovert.
  • Temperamen yang introvert (melankoli dan plegmatik lebih mudah diajar daripada yang ekstrovert (sanguin dan kolerik).
  • Bukan berarti mereka adalah kaum pemberontak, karena untuk diajar, perlu waktu dan kesabaran sebab mereka mudah kehilangan perhatian.
  • Jika anak-anak ini dibiarkan bertumbuh begitu saja, maka perhatiannya terhadap hukum dan peraturan (Allah dan manusia) akan berkurang.  Umumnya kaum kriminal dan pelanggar hukum adalah golongan ekstrovert yang ekstrim.

B. Kaum Introvert.
  • Lebih mudah diatur dan dididik.
  • Lebih penurut dan kata hatinya mudah terganggu.
  • Biasanya mereka hadir acara-acara bersifat rohani.
  • Masalah mereka yang besar adalah problema rasa bersalah. Kebutuhan mereka yang terbesar adalah keyakinan bahwa  dosa-dosa mereka telah diampuni.
  • Tidak boleh memperlakukan mereka dengan keras karena mudah bagi mereka untuk mengetahui peraturan yang harus ditaati.
2. Hasil Akademis.
A.  Kaum Ekstrovert:
  • Kurang begitu menonjol disekolah.  Nilai angka mereka biasanya sedang-sedang saja.
  • Kurang dapat mendisiplin diri sendiri.
  • Memperoleh stimulasi yang kuat melalui tegoran atau disiplin.
B.  Kaum Introvert:
  • Biasanya lebih mudah menangkap pelajaran dan grade mereka agak tinggi.  Namun ada juga pengaruh faktor lainnya, seperti inteligensia dan motivasi.
  • Lebih mendisiplin diri untuk belajar dengan baik.
  • kaum introvert memperoleh motivasi yang kuat melalui pujian.
3. Pilihan Pekerjaan.
A. Kaum Ekstrovert:
  • Biasanya melakukan pekerjaan lebih baik jika ada hubungannya dengan orang lain.
  • Contoh pekerjaan mereka adalah salesman/saleslady, humas, pertunjukan seni dan musik, dan seringkali politik.
  • Ada dua jenis ekstrovert: Pertama, sangat sosial, bersahabat, dan suka jalan-jalan; sedangkan yang kedua, lebih kasar, suka murung, dan berlaku tidak sopan. Sangat sosial, bersahabat dan suka jalan-jalan


B. Kaum Introvert.
  • Bekerja lebih baik dalam pelajaran di sekolah.
  • Lebih suka melakukan tugas yang detail, mempunyai kesanggupan untuk berkonsentrasi, dan bekerja dengan  benda-benda daripada dengan orang.
  • Biasanya mereka menjadi ahli akutansi, peneliti, pelukis atau seniman, tehnisi, dan lain-lain.
4. Popularitas.
  • Ekstrovert lebih populer di sekolah dan biasanya mereka dipilih sebagai para pemimpin.
  • Ekstrovert lebih mudah mengadakan hubungan dengan lawan jenis sebab mereka pintar berbicara.
  • Lebih mudah menjalin hubungan dengan orang yang tidak dikenal karena sikapnya periang, suka senyum, dan berbicara.
  • Introvert cenderung untuk menyendiri di kamar atau hanya mempunyai satu atau dua kawan saja.
5. Kesanggupan untuk Berkonsentrasi.
A.  Kaum Ekstrovert:
  • Ekstrovert kurang dapat berkonsentrasi karena mereka mudah terganggu.
  • Ekstrovert cenderung untuk mengalami kecelakaan, seperti kecelakaan mobil.
  • Ekstrovert kurang begitu kuatir karena masa berkonsentrasi agak singkat.
B. Kaum Introvert:
  • Daya konsentrasi mereka lebih tinggi dan lebih lama.
  • Introvert kurang sanggup menjalani ujian tulisan yang panjang-panjang karena daya konsentrasi mereka sangat pendek.
  • Lekas bosan dengan bacaan yang panjang-panjang.
6. Daya Ingat.
  • Daya ingat ekstrovert cukup pendek, sementara kaum  introvert lebih lama.
  • Jika seorang dosen memberi ujian sehabis bahan kuliah diajarkan, maka kaum ekstrovert akan mempunyai hasil yang lebih baik daripada introvert.
  • Karena daya ingat introvert lebih kuat, maka merek lebih mudah diajar karena mereka akan ingat itu untuk jangka waktu yang lama berbagai pelajaran.
·         Konsep tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pertama sekali dikemukakan oleh Carl Gustaf Jung. Jung (dalam Suryabrata, 1998) mengungkapkan konsep jiwa sebagai dasar pembagian tipe kepribadian.
·         Konsep sikap jiwa dijelaskan sebagai arah daripada energi psikis umum atau libido yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya. Arah aktivitas energi psikis itu dapat ke luar ataupun ke dalam, dan arah orientasi manusia terhadap dirinya, dapat keluar ataupun ke dalam. Jadi, berdasarkan sikap jiwa tersebut manusia digolongkan jadi dua tipe yaitu: manusia yang bertipe introvert dan manusia yang bertipe ekstrovert.
·         Jung mendefinisikan tipe kepribadian introvert sebagai berikut: “Introversion is an attitude of psyche characterized by an orientation toward one’s own thoughts and feeling....when we say people are introver, we mean they are withdrawn and often shy and they tend to focus on themselves” (dalam Schultz dan Schultz, 1993).
·         Individu tipe kepribadian introvert terutama dipengaruhi oleh dunia subjektifnya, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutama tertuju ke dalam: pikiran, perasaan, serta tindakan-tindakannya terutama ditentukan faktor-faktor subjektif. Penyesuaian dengan dunia luar kurang baik; jiwanya tertutup, sukar bergaul sukar berhubungan dengan orang lain, kurang dapat menarik hati orang lain (dalam Suryabrata, 1998).
·         Tipe kepribadian introvert bertolak belakang dengan tipe kepribadian ekstrovert, dimana Jung mengartikan tipe kepribadian ekstrovert sebagai berikut: “Extraversion is an attitude of psyche characterized by an orientation toward the external world and other people.....Extraverts are more open, sociable, and socially assertive” (dalam Schultz dan Schultz, 1993).
·         Individu yang tipe kepribadian ekstrovert terutama dipengaruhi oleh dunia objektif, yaitu dunia di luar dirinya. Orientasinya terutama tertuju ke luar, pikiran, perasaan, serta tindakannya terutama ditentukan oleh lingkungannya baik lingkungan sosial maupun lingkungan non sosial. Individu bersikap positif terhadap masyarakatnya; lebih terbuka, mudah bergaul, hubungan dengan orang lain lancar (dalam Suryabrata, 1998).
·         Jung (dalam Suryabrata, 1998) menyatakan bahwa setiap orang memiliki kapasitas untuk kedua sikap tersebut, tetapi hanya satu yang dominan dan sadar dalam kepribadiannya, sedangkan yang lain kurang dominan dan tidak sadar. Apabila ego lebih bersifat ekstrovert dalam relasinya dengan dunia maka ketidaksadaran pribadinya akan bersifat introvert.
·         Menurut Jung (dalam Ambarita, 2004) tipe-tipe ini dapat kita jumpai pada semua lapisan masyarakat, baik laki-laki ataupun perempuan, pada orang dewasa ataupun anak-anak. Pendidikan, lingkungan, jenis kelamin atau umur tidak berpengaruh pada terjadinya tipe-tipe ini. Dikatakan juga bahwa dalam satu keluarga kedua tipe ini, introvert dan ekstrovert dapat ditemukan sekaligus.
·         Jadi sikap kedua tipe ini (kepribadian ekstrovert dan introvert) terhadap dunia luar atau lingkungan sekitarnya bukanlah sikap yang diambil dengan sadar dan sengaja. Sikap yang demikian harus kita anggap mempunyai sebab tak sadar dan instinktif atau lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa tipe ini dalam lapangan ilmu jiwa memiliki dasar biologis (dalam Ambarita, 2004).
·         Jung menganggap sikap manusia terhadap dunia luar itu sebagai suatu soal penyesuaian diri, sebab cara suatu tipe menyesuaikan diri dengan dunia luar akhirnya akan bergantung kepada pembawaan si anak itulah yang pertama- tama akan menentukan ke dalam tipe mana kelak ia masuk (apakah tipe kepribadian ekstrovert atau introvert). Pembawaan itu pula yang menentukan bagaimana anak itu akan menyesuaikan diri dengan dunia luar.
·         Tipe Kepribadian. Tipe kepribadian merupakan ciri, sifat dan karakter yang dimiliki oleh
seseorang yang membedakan seseorang dengan individu lainnya. Tipe kepribadian yang dimiliki seseorang sangat menentukan pola reaksinya terhadap situasi dan kejadian yang secara langsung atau tidak langsung membawa pengaruh dalam dirinya. Ada dua tipe kepribadian introvert dan tipe kepribadian ekstrovert, yang memiliki ciri sebagai berikut:
1. Tipe kepribadian introvert mempunyai ciri-ciri antara lain, sadar akan waktu, semangat berkompetisi, sangat ambisius, sangat agresif, pekerja keras, menetapkan target yang tinggi bagi dirinya dan orang lain, memiliki emosi yang tinggi.
2. Tipe kepribadian ekstrovert yang cenderung akan menunjukkan ciri sangat tenang, santai, tidak memiliki ambisi berlebihan, kurang rentan terhadap stres kerja dan penyakit jantung.
·         Individu yang introvert akan mengalami ketegangan emosional yang lebih besar saat menghadapi konflik karena mereka cenderung menarik diri dari kerja, dan hal ini akan menghambat efektifitas penyelesaian masalah. Kepribadian merupakan locus of control sebagai penyebab yang signifikan terhadap stres kerja. Individu dengan locus of control eksternal menyakini bahwa setiap kegagalan yang dialami oleh mereka disebabkan oleh kekuatan dari luar diri mereka yang tidak mampu mereka atasi dengan kemampuan yang mereka miliki
·         Apabila dikelompokan, kepribadian dibagi menjadi dua kelas terpisah, yaitu Fixed Personaliy (kepribdian yang tegas, mapan dan sulit diubah) dan Flexible Personaliy (kepribadian yang luwes dan adaptif). Orang dengan kepribadian tegas selalu menunjukkan karakter kepribadian yang sama apakah ia bersama orang-orang terdekat atau orang asing. Orang semacam ini tidak bisa melepas jaket baja kepribadiannya. Apakah sedang bermain atau bekerja, apakah di pesta atau di konferensi. Ia sudah terlatih untuk tidak membiarkan dirinya terombang-ambing lingkungan. Sedangkan, orang yang punya kepribadian fleksibel sangat susah untuk diukur. Orang-orang yang berada dalam lingkungan kepribadian macam ini tidak selalu bisa menunjukkan ke dalam kualitas kepribadian mereka. Orang-orang semacam ini tidak bisa ditangkap sepotong-sepotong. Untuk bisa mengetahui seberapa kepribadian mereka, kita harus menempelnya kemana saja dan melihat bagaimana mereka menghadapi dan mengatasi situasi-situasi sulit dan berbahaya.
·         Kepribadian yang mana sih yang sebenarnya lebih baik? Introvert atau extrovert? Bagaimana yah caranya supaya bisa menjadi orang dengan keribadian ekstrovert? Jika aku lebih memilih untuk sendiri apakah berarti aku memiliki kelainan? Mengapa orang lain bisa memiliki kepribadian yang lebih menyenangkan sedangkan aku tidak?
·         Kalimat-kalimat tanya diatas mungkin menjadi pertanyaan yang cukup umum diatara orang-orang khususnya para remaja yang dituntut untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Apa sih yang sebenarnya dimaksud dengan ciri kepribadian extrovert dan introvert? Kepribadian Extrovert merupakan kepribadian yang stimulus utamanya berasal dari lingkungan. Karenanya orang dengan kepribadian extrovert senang bersosialisasi, asertif, dan terbuka pada lingkungan. Sebaliknya kepribadian introvert merupakan kepribadian yang stimulus utamanya berasal dari diri sendiri. Orang dengan kepribadian introvert biasanya cenderung lebih tertutup, tidak asertif dan menyenangi kegiatan-kegiatan individual.
·         Kedua ciri kepribadian tersebut memiliki aspek-aspek positif dan negatif, sehingga sebenarnya tidak ada kepribadian yang lebih baik atau lebih buruk diantara keduanya. Menjadi penyendiri bukan berarti hal yang negatif atau memiliki kelainan, begitu pula sebaliknya dengan orang yang selalu membutuhkan orang lain. Setiap orang memiliki batasan kenyamanan tertentu dalam bersosialisasi, bergaul dan membuka dirinya pada lingkungan. Oleh karena itu tidak ada yang salah dengan menjadi extrovert maupun introvert.  Hal yang perlu diperhatikan adalah selama kepribadian tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, maka kita tidak perlu memiliki kekhawatiran yang terlalu dalam. Tetapi apabila kepribadian tersebut sangat merugikan diri sendiri dan orang lain, maka sebaiknya kita melakukan sesuatu. Hal ini bukan berarti merubah diri kita secara total, melainkan menyesuaikan diri kita terhadap lingkungan.

·         Contoh.
·         Kecenderungan untuk menyendiri membuat kita dijauhi lingkungan karena menolak untuk mengerjakan tugas kelompok.
·         Kecenderungan untuk selalu membutuhkan orang lain menganggu teman-teman lainnya yang sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian.
·          
·         Berdasarkan email-email konsultasi yang masuk kepada tim Webkonseling, banyak yang mempertanyakan mengenai bagaimana caranya merubah kepribadian yang tertutup (introvert) menjadi lebih terbuka. Hal ini khususnya terkait dengan kesulitan mereka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya (pekerjaan, sekolah, kuliah dll).
·         Untuk membuat diri kita menjadi lebih terbuka terhadap orang lain, penting bagi kita untuk mengetahui mengapa lebih senang sendiri daripada bergaul dengan orang lain. Ada berbagai alasan mengapa orang lebih nyaman sendiri, seperti malu, merasa tidak PD, merasa rendah diri/minder, takut membuat kesalahan, ada pengalaman menyakitkan dimasa lalu mengenai pertemanan dll.
·          
·         Ada beberapa saran yang bisa diberikan agar kita menjadi lebih berani dan terbuka dalam bersosialisasi/bergaul:
·         1.     Hilangkan pikiran negatif mengenai diri sendiri
·         Pada saat berbicara atau berkenalan dengan orang lain, jangan sekali-kali mengkritik diri sendiri. Hilangkan jauh-jauh pikiran-pikiran mengenai pendapat orang mengenai diri kita. Misalnya, “dia tidak suka dengan saya”, “saya tidak pandai berbicara” dll. Pikiran negatif atau kritik diri sendiri hanya akan menghambat pembicaraan dan keinginan kita untuk bergaul karena apa yang kita pikirkan belum tentu benar.
·         2.     Jangan berharap terlalu banyak dari orang lain
·         Usaha kita untuk bergaul dengan orang lain tentunya diiringi pula dengan ekspektasi kita yang besar akan tanggapan orang lain terhadap kita. Sebaiknya, kita tidak memiliki ekspektasi yang terlalu besar terhadap orang lain. Karena, apabila ekspektasi tersebut tidak terpenuhi semakin kecewa kita terhadap orang lain, yang pada akhirnya dapat memutuskan semnagat kita untuk bergaul kembali dengan orang lain dilain waktu. Jangan terlalu banyak berharap akan reaksi orang lain sesuai dengan keinginan kita. Sangatlah wajar apabila jawaban yang diberikan mereka mungkin hanya sebatas “ya”, “tidak” atau jawaban singkat. Hal ini bukan berarti mereka tidak menyukai kita atau menolak berteman dengan kita. Karenanya, tetaplah melakukan pendekatan diri dengan mereka.
·         3.     Bicarakan hal-hal yang umum
·         Agar komunikasi dengan orang baru dapat berjalan lancar, mulailah dengan membicarakan hal-hal yang umum, seperti, hobi, berita, film, musik, kejadian yang sedang heboh terjadi di masyarakat dll. Jangan terlalu banyak membicarakan diri sendiri atau orang lain karena hal ini akan memancing reaksi negatif dari orang lain yang belum tentu sesuai dengan maksud kamu.
·         4.     Jadilah pendengar yang baik
·         Jika kamu merasa sulit untuk mencari bahan pembicaraan, maka kamu dapat menjadi pendengar yang baik. Dengarkanlah cerita atau curhatan teman kamu. Kamu tidak perlu terlalu banyak bicara, karena biasanya orang lain hanya ingin didengarkan.
·         5.     Jangan memulai atau terlibat perdebatan
·         Bila obrolan kamu dengan teman kamu mulai mengarah kearah perdebatan, hindarilah. Jangan membuat diri kamu terjebak dalam perdebatan atau memicu perdebatan, karena hal ini hanya akan menyulitkan kamu.
·         6.     Mulailah atau pilihlah kelompok teman yang aman
·         Di dalam suatu lingkungan, biasanya terdapat berbagai jenis kelompok yang memiliki identitas kelompok sendiri. Umumnya kelompok-kelompok tersebut memiliki ciri-ciri atau kesamaan yang bisa berdasarkan atas status, hobi, jenis kelamin dll. Jika ingin bergaul  atau memiliki teman dekat, mulailah dengan kelompok yang aman. Dalam hal ini adalah kelompok yang tidak menyesatkan, tidak menuntut atau kelompok yang sesuai dengan kamu. Dengan begitu kamu akan lebih nyaman berada di kelompok tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Sabtu, 17 November 2012

SISTEM PAKAR ANALISIS KEPRIBADIAN BERDASARKAN TEORI JUNG DAN MYERS-BRIGGS TYPES INDICATOR


 SISTEM PAKAR ANALISIS KEPRIBADIAN BERDASARKAN TEORI JUNG DAN MYERS-BRIGGS TYPES INDICATOR

1. Sistem Analisis Pakar
            Sistem pakar adalah suatu sistem yang dirancang untuk dapat menirukan keahlian seorang pakar atau ahli dalam menjawab pertanyaan dan memecahkan suatu masalah. Tujuan utama sistem pakar adalah untuk memasyarakatkan atau memindahkan secara efektif pengetahuan dan pengalaman para pakar kepada mereka yang bukan pakar. Pemecahan masalah diberikan pada pemakai melalui dialog dengan mereka. Sistem pakar membantu seseorang yang bukan pakar/ahli dalam menjawab pertanyaan, menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan yang biasanya dilakukan oleh
seorang pakar.  Ada 3 komponen pendukung dalam sistem analisis pakar, yaitu:
a.    Pangkal pengetahuan (Knowledge Base) yaitu : berisi fakta-fakta, ide, interaksi suatu domain tertentu.
b.    Motor Inferensi (Inference Engine), bertugas untuk menganalisa pengetahuan dan menarik kesimpulan  berdasarkan pangkalan pengetahuan dan antarmuka pemakai.
c.     Antar Muka pemakai (User Interface), bertugas sebagai media yang melakukan komunikasi dengan pemakai.

2. Teori Kepribadian Menurut Carl Gustav Jung
            Carl Gustav Jung (1875-1961) adalah orang pertama yang merumuskan tipe kepribadian manusia dengan istilah ekstrovert dan introvert, serta menggambarkan empat fungsi kepribadian manusia yang disebut dengan fungsi berpikir, pengindera, intuitif, dan perasa. Jung berpendapat bahwa kepribadian tersusun oleh sejumlah sistem yang beroperasi dalam empat tingkat kesadaran, dimana empat tingkat kesadaran inilah yang membentuk struktur kepribadian. empat tingkatan kesadaran yang menyusun kepribadian tersebut, yaitu :


a.    Kesadaran dan Ego
Hasil pertama dari proses diferensial kesadaran itu adalah ego. Ego berperan pentingdalam menentukan persepsi, pikiran, perasaan, dan ingatan yang bisa masuk kekesadaran. Tanpa adanya seleksi dari ego, jiwa manusia menjadi kacau karenapenuh oleh pengalaman yang semua bebas keluar masuk ke kesadaran.
b.    Tak sadar pribadi dan Kompleks
Pengalaman  yang tidak diterima ego untuk muncuk di kesadaran tidak hilang,melainkan disimpan dalam taksadar pribadi (personal unconscious). Sehingga tak sadar pribadi berisi pengalaman yang ditekan, dilupakan, dan yang gagal menimbulkan kesan sadar. Di dalam tak sadar pribadi, sekelompok idea mungkin mengorganisir diri menjadi satu, disebut complex.
c.    Taksadar pribadi kolektif
Adalah gudang ingatan laten yang diwariskan oleh leluhur, berupa pengalaman-pengalaman umum yang terus-menerus berulang lintas generasi. Namun yang diwariskan lebih sebagai tingkah laku bukanlah memori atau pikiran.4.
d.   Arsetip
Yaitu komponen-komponen ketidaksadaran kolektif yang mewakili atau  melambangkan peluang munculnya jenis persepsi dan aksi tertentu. Di dalam arsetip terdapat kekuatan ( force) yaitu :
1)  Persona (topeng): pendapat publik mengenai diri individu sebagai lawan dari kepribadian privat yang berada dibalik wajah sosial
2)  Anima: naluri perempuan pada pria.
3) Animus: naluri jantan pada wanita.
4) Shadow: insting dasar yang menuntun penyesuaian dengan realita berdasarkan pertimbangan untuk menyelamatkan diri. Seperti insting kebinatangan yangdiwarisi manusia dari evolusi makhluk
5)  Self: sebuah warisan cenderungan untuk bergerak menuju pertumbuhan,kesempurnaan, dan penyelesaian yang dimiliki oleh seseorang.

A.  Dinamika Kepribadian                                 
1) Kausalitas dan Teleologi
2) Progress (gerak maju) dan regress (gerak mundur)

B. Tipe Kepribadian
Level psikis dan dinamika kepribadian:
a. Attitude
1. Ekstrover : kepribadian yang terbuka
 2. Introver : kepribadian yang tertutup

 C. Function
1. Pikiran
2.Perasaan
3.Penginderaan
4.Intuisi

D. Perkembangan Kepribadian
Tahap-tahap Perkembangan:
1). Masa anak-anak (0-12 tahun)
a.Tahap Anarkis (0-6 tahun): kesadaran yang masih kacau dan sporadis.
b.Tahap Monarkis (6-8 tahun): dimulai dengan perkembangan ego dan mulainya pikiran verbal dan logika.
c.Tahap Dualistik (8-12 tahun): pembagian ego menjadi objektif dan subjektif.
2).Masa Remaja (12-35 tahun)Dimulai dengan pubertas, mulai mandiri secara fisik dan psikis yang diperoleh dariorang tua, meningkatnya kegiatan, kematangan seksual, bertanggungjawab, danpemahaman bahwa era bebas masalah dari kehidupan anak-anak sudah hilang.
3).Masa Dewasa (35-40 tahun)Mengembangkan aktualisasi diri, munculnya kebutuhan nilai spiritual, mulaimemahami makna kehidupan dirinya.
4). Masa Tua (> 40 tahun)Mulai memahami makna kehidupan secara filosofis dan memandang kematiansebagai tujuan hidup.
E. Perubahan Tingkah Laku
Jung melihat jauh melewati batasan psikologi, dalam usahanya memperoleh data untuk membangun konsepnya mengenai kemanusiaan. Jung mendalami berbagai disiplinilmu sehingga memiliki beberapa metode untuk memahami kepribadian dan mengetahuiperubahan tingkah laku dari klien, yaitu:
a.Tes asosiasi kata : membuka  feeling-toned complexes (berbagai hal individualis dan bersifat emosional dalam kepribadian)
b. Analisis mimpi : membuka elemen ketidaksadaran personal dan kolektif serta mengintegrasikannya dalam sebuah kesadaran
c.Imajinasi aktif : membuka gambaran arketipe yang bermula dari ketidaksadaran
d.Psikoterapi : membantu penderita neurotik agar mandiri melalui teknik realisasi diri.

Test Kepribadian Myer Brigss

Diantara sekian banyak tes kepribadian yang paling akurat dan paling banyak digunakan adalah MBTI (Myers Brigss Type Indicator). MBTI dikembangkan oleh Katherine Cook Brigss dan Isabel Brigss Myers berdasasrkan teori kepribadian dari Carl Gustav Jung.
MBTI bersandar pada empat dimensi utama yang saling berlawanan. Masing-masing memiliki sisi positif dan sisi negatif. Berikut empat skala kecenderungan MBTI adalah :

1)      Ekstrovert (E) vs. Introvert (I)
Dimensi IE untuk melihat orientasi energi apakah ke dalam atau keluar. Ekstrovert artinya pribadi yang menyukai dunia luar. Tipe kepribadian ini senang bergaul, menyenangi interaksi sosial, menyukai aktivitas dengan orang lain dan berfokus pada dunia luar. Sebaliknya, tipe introvert adalah pribadi yang menyukai dunia dalam (diri sendiri). Tipe ini suka menyendiri, merenung, membaca, menulis dan tidak terlalu menyukai pergaulan dengan banyak orang. Individu dengan tipe kepribadian ini mampu bekerja sendiri, berkonsentrasi dan fokus. Tipe kepribadian ini bagus dalam pekerjaan pengolahan data dan back office

2)      Sensing (S) vs. Intuition (I)
Dimensi SI melihat bagaimana individu memproses data. Sensing memproses data dengan cara bersandar pada fakta yang konkrit, praktis, realistis dan melihat data apa adanya. Sensing menggunakan pedoman pengalaman dan data konkrit serta memilih cara-cara yang sudah terbukti. Individu tipe kepribadian ini fokus pada masa kini atau hal-hal apa saja yang bisa diperbaiki pada masa sekarang ini. Individu sensing bagus dalam perencanaan teknis dan detil aplikatif. Tipe intuition memproses data dengan melihat pola dan hubungan , pemikir abstrak, konseptual serta melihat bagaimana kemungkinan yang bisa terjadi. Tipe intuition berpedoman pada imajinasi, memilih cara unik dan berfokus pada masa depan atau apa yang akan dicapai pada masa mendatang. Tipe ini inovatif, penuh insprasi dan ide unik, bagus untuk penyusunan konsep, ide dan visi jangka panjang.


3)      Thinking (T) vs. Feeling (F)
Dimensi ketiga melihat bagaimana seseorang dapat mengambil keputusan. Thinking adalah selalu menggunakan logika dan melakukan analisa dalam mengambil keputusan, cenderung berpusat pada tugas dan objektif. Terkesan kaku dan keras kepala, menerapkan prinisip dengan konsisten dan bagus untuk melakukan analisa serta menjaga prosedur atau standar. Sementara feeling adalah tipe kepribadian yang melibatkan perasaan, empati, serta nilai-nilai yang diyakini pada saat pengambilan keputusan. tipe ini berorientasi pada hubungan dan subjektif. Bersifat akomodatif tetapi lebih terkesan memihak, empatik dan menginginkan harmoni dan bagus dalam menjaga keharmonisan dan memelihara hubungan.

4)      Judging (J) vs. Perceiving (P)
Dimensi terakhir melihat bagaimana derajat fleksibilitas seseorang. Judging pada hal ini bukanlah judging untuk menghakimi, namun pada hal ini bertumpu pada rencana yang sistemis, senantiasa berfikir dan bertindak teratur. Tipe judging tidak suka akan hal-hal mendadak atau diluar perencanaan. Individu tipe ini bagus dalam penjadwalan, penetapan struktur dan perncanaan step by step. Tipe perceiving adalah mereka yang bersifat spontan, adaftif dan bertindak secara acak untuk melihat berbagai peluang yang muncul. Perubahan mendadak bukanlah suatu masalah bagi bagi tipe ini. Bagus dalam menghadapi perubahan dan situasi mendadak.

Manfaat Myer-Brigss Type Indicator Test  

Berikut ini adalah kegunaan dari Myer-Brigss Type indicator adalah :
1)      Bimbingan Konseling
Test ini sangat berguna untuk pengembangan karier. Test ini dapat juga digunakan untuk panduan untuk memilih jurusan di perguruan tinggi atau bakan profesi yang sesuai dengan kepribadian.

2)    Pengembangan diri
Dengan test ini individu dapat melihat kelbihan dan kekurangan yang terdapat dalam diri sendiri. Individu dapat lebih fokus untuk mengembangkan kelebihan kita dan memperbaiki sisi negatif dalam diri.

3)    Memahami orang lain dengan cara yang lebih baik
Test ini juga dapat memperbaiki hubungan dan cara pandang individu terhadap orang disekitarnya. Individu akan dapat memahami dan meneerima perbedaan yang dimiliki oleh orang lain.
                                           


16 Tipe Kepribadian Menurut Myer-Brigss Type Indicator Test

Berikut ini merupakan 16 tipe kepribadian yang telah dideskripsikan menurut Myers-Brigss Type Indicator Test.

1)      ISTJ (Bertanggung jawab)
a)      Serius tenang dan stabil
b)      Senang pada fakta, logis dan objektif
c)      Pendengar yang baik, setia  hanya mau berbagi pada orang terdekat
d)     Memegang aturan, standart dan prosedur yang telah ditetapkan


2)      ISFJ (Setia)
a)      Penuh pertimbangan, hati-hati, teliti dan akurat
b)      Serius, tenang, stabil dan sensitif
c)      Punya kemampuan mengorganisasi, detail, sangat bertanggung jawab dan dapat diandalkan

3)      ISTP (Pragmatis)
a)      Tenang, pendiam, cenderung kaku, dingin
b)      Logis, rasional, kritis dan objektif
c)      Mampu menghadapi perubahan dengan cepat dan tenang
d)     Mampu menganalisa, mengorganisir dan mendelegasikan.

4)      ISFP (Artistik)
a)      Berpikir simple, praktis, fleksibel, sensitif dan ramah
b)      Menghindari konflik, tidak memaksakan pendapat atau nilai-nilainya pada orang lain
c)      Biasanya tidak mau memimpin, tetapi menjadi pelaksana atau pengikut yang setia
d)     Menunjukkan perhatian lebih banyak melalui tindakan dibandingkan kata-kata,

5)      INFJ (Reflektif)
a)      Perhatian, empati, sensitif dan berkomitmen pada sebuah hubungan
b)      Sukses karena ketekunan, originalitas dan total dalam mengerjakan tugas untuk mendapatkan hasil terbaik
c)      Idealis, perfeksionis, memegamg teguh prinsip
d)     Visioner, penuh ide dan kreatif

6)      INTJ (Independen)
a)      Visioner, punya perencanaan praktis, dan biasanya memiliki ide-ide originalitas serta dorongan yang kuat untuk mencapainya.
b)      Mandiri dan percaya diri
c)      Punya kemampuan yang baik dalam menganalisa sessuatu
d)     Skeptis, kritis, logis dan kadang-kadang keras kepala
e)      Punya keinginan untuk berkembang dan lebih maju dari orang lain

7)      INFP (Idealis)
a)      Sangat perhatian dan peka dengan perasaan orang lain
b)      Penuh dengan antusiasme dan kesetian kepada orang terdekatnya saja
c)      Cenderung idealis dan perfeksionis
8)      INTP (Konseptual)
a)      Sangat menghargai intelektualitas dan pengetahuan
b)      Suka memecahkan masalah dengan logika dan analisa
c)      Lebih suka bekerja sendiri
d)     Cenderung kritis, skeptis, pesimis dan mudah curiga pada orang lain

9)      ESTP (Spontan)
a)      Spontan, aktif, enerjik , cekatan, sigap dan antusias
b)      Kominukator, asertif, memiliki interpersonal skill yang tinggi
c)      Mampu menghadapi masalah, konflik dan kritik
d)     Mudah beradaptasi, toleran dan konservatif tentang nilai-nilai

10)  ESFP (Murah hati)
a)      Mudah berteman, bersahabat , ramah , hangat dan menyenangkan
b)      Optimis, ceria dan suka menjadi pusat perhatian
c)      Mempunyai interpersonal skill yang baik dan mudah simpatik
d)     Menghindari konflik dan menjaga keharmonisan suatu hubungan

11)   ENFP (Optimis)
a)      Ramah, hangat, enerjik
b)      Imaginatif, penuh ide, kreatif dan inovatif
c)      Pandai berkomunikasi, senang bersosialisasi dan membawa suasana positif

12)   ENTP (Inovatif)
a)      Gesit, kreatif, cerdik dan logis
b)      Fleksibel, mempunyai banyak cara menghadapi tantangan
c)      Kurang konsisten, cenderung melakukan pekerjaan baru yang lebih menarik daripada yang sebelumnya
d)     Punya keinginan kuat untuk mengembangkan diri

13)   ESTJ (Konservatif)
a)      Praktis, realistis dan cenderung berpegang pada fakta
b)      Sangat sistematis
c)      Cenderung kaku dalam mengerjakan suatu tugas
d)     Disiplin dan pekerja keras

14)   ESFJ (Harmonis)
a)      Hangat, banyak berbicara dan biasanya populer
b)      Teliti dan rajin
c)      Santai dalam mengerjakan sesuatu dan sederhana
d)     Selalu melakukan sesuatu yang manis bagi orang lain tanpa memikirkan diri sendiri

15)   ENFJ (Meyakinkan)
a)      Kreatif, imajinatif, peka dan sensitif
b)      Pandai bergaul, meyakinkan, ramah
c)      Menyukai variasi dan tantangan baru
d)     Butuh apresiasi dan penerimaan

16)   ENTJ (Pemimpin alami)
a)      Dominan, kuat kemauannya, perfeksionis
b)      Tangguh, disiplin dan sangat menghargai komitmen
c)      Berbakat pemimpin
d)     Cenderun menutupi perasaan dan menyembunyikan kelemahan.

Kesimpulan

Sistem pakar merupakan jawaban yang tepat untuk permasalahan mengenai pengetesan kepribadian dengan menggunakan teknologi ,karena sistem pakar adalah suatu sistem yang dirancang untuk dapat menirukan keahlian seorang pakar atau ahli dalam menjawab pertanyaan dan memecahkan suatu masalah. Pemecahan masalah diberikan pada pemakai melalui dialog dengan mereka sehingga membantu seseorang yang bukan pakar atau ahli dalam menjawab pertanyaan, menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan yang biasanya dilakukan oleh seorang pakar
                Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan sebelumnya dan setelah dilakukan verifikasi, dapat ditarik kesimpulan bahwa aplikasi sistem pakar mengenai analisa kepribadian manusia dengan merujuk pada Teori kepribadian menurut Jung ini dapat alat bantuan bagi pengguna untuk mengenal lebih jauh kepribadiannya sendiri dalam upaya proses pencarian jati diri dan juga dapat memahami kepribadian sesamanya.

DAFTAR PUSTAKA

Mudrika, N. (2012). MBTI : Myer-Brigss Type Indicator. E-book. http://dewihardiningtyas.lecture.ub.ac.id/files/2012/04/mbti.pdf diakses pada tanggal 31 Oktober 2012 pukul 13.45
Novianingsih, K, Putra, Y.F & Suwandy. A.S. (2004). Sistem Pakar Analisa Kepribadian Manusia.  Journal Teknik Komputer : Fakultas Teknik dan Ilmu komputer. Bandung : Universitas Komputer Indonesia.